Suasana Setelah Datangnya
Beberapa abad dan kurun waktu yang panjang telah berlalu, selama itu kaum muslimin khususunya di
Kemudian datang suatu masa dimana kaum muslimin terlalu menyibukkan dirinya masalah “furu’iyyah” (parsial) yang tidak prinsip dan justru mengabaikan masala-masalah “kulliyyah” (konprehensif) yang sangat prinsip yang semestinya harus diberi perhatian yang besar oleh kaum muslimin.
Maka bermunculanlah perselisihan dan permusuhan diantara mereka hanya masalah furu’iyyah tersebut. Dan sebagai akibatnya adalah kemunduran kaum muslimin dan ketertinggalan mereka dalam mengikuti peradaban manusia setelah sebelumnya merekalah yamg harus menjadi perintis dan pelopornya.
Dan anehnya, orang yang menyebarkan kesalahan akibat penyimpangan dan penyelewengan dari jalan islam yang lurus ini bukannya orang-orang awam, melainkan orang-orang “khusus” yang sudah layak disebut ilmuwan dan juga menduduki tampuk kepemimpinan ummat. Mereka mengaku hendak menghidupkan ajaran ulama’ “salafus shalih” dan menyangka bahwa dirinya telah sampai kepada tingkatan intelektualitas dan kejeniusan yang tinggi dimana kebanyakan ulama’ dewasa ini tidak mampu mencapainya. Bahkan sebagian dari mereka kadang-kadang tertipu sehingga berkhayal bahwa merekalah imam-imam mujtahid. Merekapun datang dengan membawa pendapat-pendapat yang aneh yang berlawanan dengan mayoritas pendapat para ulama’, baik yang salaf maupun yang khalaf dengan maksud mencerai-beraikan barisan kaum muslimin.
Agama yang semestinya dapat memadukan hati, menyatukan barisan dan mengokohkan persaudaraan lantaran kebodohan dan ditunggangi hawa nafsu kini telah menjadi sebab perselisihan, permusuhan dan pertengkeran. Juga menjadi propaganda untuk melepaskan hubungan persaudaraan dalam iman yang telah diikat tali agama.
Mereka itu adalah orang-orang yang gila popularitas dan mengira bahwa merekalah ahli ijtihad dimasa yang penuh dengan musibah dan bencana ini. Mereka mengobarkan api permusuhan dan perpecahan diantara kaum muslimin serta menyebarkan fitnah hanya karena masalah-masalah sepele seperti menghadiahkan pahala bacaan al qur’an untuk orang mati, membaca qunut diwaktu sholat subuh, membaca usholli, mengucapkan kata sayyidina, menggerak-gerakkan jari telunjuk, berdzikir menggunakan tasbih, ziarah kubur, sholat qobliyah maghrib, sholat qobliyyah jum’at, membaca talqin di atas kubur, talak ketiga sekaligus, tarawih dua puluh rakaat, mencukur jenggot, membaca dzikir dengan jahar, mengadakan peringatan maulid nabi dan hal-hal sejenisnya yang sebenarnya tidaklah perlu terlalu diperdebatkan karena dia dalam pandangan agama hanyalah masalah-masalah kecil yang tidak prinsipil. Masalah-masalah furu’iyyah seperti itu oleh mereka justru ditempatkan pada kedudukan masala-masalah pokok yang besar dimana perbedaan pendapat didalamnya tidak boleh terjadi dan wajib dimusnahkan.
Sebenarnya masalah-masalah besar yang harus menyita perhatian kita adalah bagaimana menjaga akidah umat ini dan bagaimana kita menyatukan pendapat serta merapatkan barisan dalam rangka menanggulangi dakwah-dakwah yang menghancurkan dari organisasi misionaris Kristen dan aliran-aliran atheis. Begitu juga dengan bagaimana kita menanggulangi kebrobrokan moral yang mulai menjangkiti kalangan remaja putra-putri kita.
Yang sungguh memprihatinkan bahwa putusnya persaudaraan diantara kaum muslimin, meluasnya sikap saling bermusuhan dan suka saling melakukan perdebatan justru dijadikan sebagai satu kebanggaan dengan dalih membela agama dan menghidupkan sunnah. Terkadang juga dengan mengatasnamakan ulama “salafus shalih” padahal mereka tidaklah ikut campur dalam hal seperti itu.
Sesungguhnya mereka sedang terperangkap dalam sebuah rekayasa busuk yang telah diatur dan diprogam oleh musuh-musuh islam agar mereka senantiasa menyibukkan diri dalam masalah-masalah kecil dan sebaliknya melupakan masalah-masalah besar. Mereka telah menciptakan mala petaka yang dahsyat, persatuan islam telah mereka robek, keutuhanpun telah mereka koyak.

