(Khazanah Islam)


HATI-HATI…..!

Hati-hati ! Ketika melangkah setiap hari

Hati-hati ! Jangan turuti nafsu ambisi

Hati-hati ! Lakukan dengan sepenuh hati

Hati-hati ! Jangan sampai hatimu mati

Hati-hati ! Kamu tidak hidup sendiri

Hati-hati ! Jangan pernah yang lain kau sakiti

Hati-hati ! Hati-hati ! Tak mudah memang menjaga hati

Namun tak perlu khawatir dan kecil hati

Jika kamu dekatkan dirimu dengan Ilahi

Hati tentram sampai akhir hayat nanti

Hati-hati ! Agar hidup kita diberkahi oleh Ilahi

Selamat di dunia dan di akhirat


Kata “Hati-hati” (dalam bahasa jawa ‘Ati-ati’), tentu sudah sering didengar, bahkan sejak kecil, orang tua kita selalu menasehati dengan kata: “Hati-hati ya nak!”.

Demikian pula di berbagai sudut jalan banyak kita lihat tulisan; “HATI-HATI”, tapi sejauh mana kita memahami kata tersebut?

Secara terminologi, kata “Hati-hati” atau “Ati-ati” dapat mudah dipahami bahwa itu berasal dari kata “Hati” atau “Ati”. Pengulangan kata tersebut adalah sesuatu yang unik, orang-orang tua zaman dahulu (yang mencetuskan kata tersebut) memiliki alasan atau dasar filosofis yang kuat dan mendalam. Paradigma masyarakat Jawa, “Ati-ati” dimaknai sebagai “Ati sing tansah eling” yang artinya adalah hati yang senantiasa (istiqomah) ingat, tertambat, terpikat dan taat kepada Allah Sang Maha Pencipta.

“Hati-hati” dapat dirasakan menjadi kata yang unik karena di bahasa manapun tidak ditemukan kata seperti itu, dalam Bahasa Inggris yang kita jumpai adalah “be careful” bukannya “heart-heart”. Dalam Bahasa Jepang, yang ada adalah kata “chui suru” atau “ki o tsukeru”, bukannya “kimo-kimo” atau “kokoro-kokoro”. Dalam Bahasa China adalah “xioxin”, bukannya “xin-xin” atau “gan-gan”. Dalam Bahasa Italia adalah “cauio” atau “attento”, bukannya “cuore-cuore”. Dalam Bahasa Belanda adalah “voorzichting” bukannya “hart-hart”.

Dapat diduga bahwa maksud dari makna yang diinginkan dari kata “Hati-hati” adalah bahwa yang menerima pesan atau yang membaca tulisan tersebut akan selalu melangkah dan bertindak dengan didasari pertimbangan hati nurani, sehingga apapun langkah dan tindakannya menjadi baik, benar atau penuh kearifan sehingga yang bersangkutan selamat dalam perjalanan mencapai tujuan hidupnya.

Dalam konteks Agama Islam, dengan merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits kita dapat menemukan “benang merah” nya sekaligus mutiara hikmah dari kata “hati-hati” yang berasal dari kata “hati” tersebut.

Orang yang hanya menuruti hawa nafsunya, maka hatinya menjadi “tertutup” (dan secara otomatis tidak bisa menggunakan hati nuraninya lagi) sehingga menjadi tersesat alias kehilangan petunjuk-Nya yang berakibat celaka bagi dirinya. Sebagaimana dijelaskan lebih lanjut dalam Al-Qur’an dimana Allah SWT berfirman: “Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka supaya mereka seperti belum pernah beriman kepadanya (al-Qur’an) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya”. (QS. Al-An’am: 6 : 110). “ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk si neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al-A’raf : 7 : 179). “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia mendengarkannya”. (QS. Qaf : 50 : 37). “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (QS. Al-Isro’ : 17 : 36)

Menurut Syaikh Ahmad Ibnu ‘Atho’illah As-Sakandari, agar hati senantiasa baik atau ‘bening’, maka harus dijaga dengan cara ma`rifat atau mengenal (mencintai) Allah. Jadi, siapa yang tak mengenal Allah lewat tanda-tanda kekuasaan-Nya ia adalah sebuta-buta manusia. Bukan buta matanya, tetapi buta hatinya. (sebagaimana tersebut dalam surat Al-Hajj ayat 46). Adapun cara memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang berupa makhluk-makhluk ciptaan-Nya bukanlah sekedar menggunakan penglihatan lahir saja, Tetapi harus ditunjang pula dengan penglihatan mata batin (hati) yang jernih dan bersih dari berbagai macam dosa akibat perbuatan hawa-nafsu. Kepada Abu Dzar Al-Ghifari, Rasulullah SAW bersabda : “Wahai Abu Dzar, Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihat Nya. Bila kamu tidak melihat Allah, maka yakinkan (dalam hatimu) bahwa Allah melihatmu.” Rasulullah SAW juga bersabda dalam Hadits Qudsi (yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim) dimana Allah SWT berfirman : “Aku berada disisi persangkaan baik hamba Ku, dan Aku bersamanya di saat ia mengingat akan Daku, maka apabila ia mengingat kepada Ku, niscaya Aku pun akan ingat padanya dalam diri Ku, dan kalau ia mengingat pada Ku di tengah-tengah kelompok, niscaya Aku mengingat pula di tengah kelompok yang lebih baik. Kalau hamba Ku mendekat pada Ku sejengkal, Aku mendekat padanya sehasta, kalau ia datang pada Ku dengan berjalan, Ku sambut kedatangannya dengan berlari”.

Syaikh Ahmad Ibnu `Ato`illah As-Sakandari menjelaskan bahwa buta mata belum tentu membawa bencana. Tetapi buta hati sudah pasti akan mendatangkan bencana atau siksa. Karena, apabila manusia sudah menderita penyakit buta hati, selama ia belum mendapat cahaya Ilahi yang berupa petunjuk-petunjuk kebenaran Ilahi, maka selama itu pula, jalannya akan tersesat. Bukan jalan menuju Surga yang ia tempuh, melainkan jalan menuju ke Neraka. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur`an : “ Dan barang siapa yang buta (hati) di (dunia) ini, maka ia buta di akhirat nanti dan bahkan lebih sesat jalannya.” (QS. al-Isra` : 17 : 72)

Lebih lanjut menurut beliau bahwa seseorang yang hatinya senantiasa di tambatkan dengan Allah, maka ia senatiasa bersandar dan berserah diri kepada Allah semata. Adapun yang telah dan akan terjadi pada dirinya, selalu di terima dengan baik sangka. Apabila mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur, sedangkan apabila mendapat musibah, ia terima cobaan itu dengan sabar (sebagai ujian keimanan). Orang yang demikian itu mengimani bahwa semua itu datangnya dari Allah untuk kebaikan dirinya.

Jadi telah nampak jelas, bahwa kata “hati-hati” memiliki makna filosofis yang sangat dalam dan sangat mendasar untuk menjadi pegangan kita dalam menjalani kehidupan didunia ini guna mencapai kemenangan atau keselamatan (di dunia dan akhirat) dan kebahagiaan jiwa. Sebagaimana ditegaskan oleh firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu sekalian mendapat kemenangan”. (QS. Jumuah : 62 : 10). “Orang-orang yang beriman itu hatinya menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ra’du : 13 : 26)

Pengulangan kata “hati” menjadi “hati-hati” dapat difahami bahwa hal itu mempunyai dua maksud :

a. Bahwa penambatan hati kepada Allah SWT dengan mengingat dan beribadah kepada Nya hendaknya dilakukan dengan ikhlas, tawadhu’, dan dilakukan secara terus menerus atau istiqomah serta dangan dilandasi sikap sabar dan syukur. “Dan ingatlah nama Tuhan kamu dan beribadahlah kepada Nya dengan sepenuh hati.” (QS. Al-Muzammil : 73 : 8). “Dan ingatlah kepada Tuhanmu didalam hatimu dengan merendahkan diri dan takut”. (QS. Al-A’raf : 7 : 205). “Wahai orang-orang yang beriman dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab : 33 : 41). “Ingatlah Allah diwaktu berdiri, duduk dan berbaring”. (QS. An-Nisa’ : 4 : 103).

b. Bahwa manusia tak luput dari lupa (berbuat lalai / ma’siat / dlolim), sehingga apabila lupa diingatkan untuk mengembalikan hati pada fitrahnya (mensucikan kembali hatinya dari “noda dosa”) dengan mengingat kepada Allah SWT melalui taubat dan istighfar. “Dan ingatlah akan Tuhanmu apabila kamu sedang lupa”. (QS. Al-Kahfi : 18 : 24).

Tidak semua orang dapat memiliki dua hal : Keberuntungan yang baik dan sikap (sense) yang baik (Titus luvy)