Dalam menempuh sebuah perjalanan, perlu disadari licinnya jalan itu, walaupun hanya sekedar mengkikis hijab dosa yang ada pada kalbunya, karena kalbu bersifat tidak kelihatan begitupun dengan dosa tersebut. Tidak sedikit yang beranggapan tentang amal yang dikerjakan seolah menghasilkan kebajikan tetapi nyatanya itu semua sebagai sebuah kesalahan. Ini patut disadari, agar ketika ibadah, ia tidak sombong dan banyak menyalahkan orang lain, apalagi pada hakekatnya rajin ibadahpun semata pertolongan Alloh SWT.
Apabila telah sadar bahwa untuk mengkikis dosa yang menempel dan terus bertambah dalam setiap harinya tidaklah mudah, maka semestinya bagi orang yang mempunyai akal, ia akan berfikir tidak hanya diam berpangku tangan, tetapi mencari cara atau metode yang dapat membawanya kepada jalan keselamatan, bertanya atau yang lainnya.
Yang mulia Syeikh Ibnu Athoillah membuat sebuah pertanyaan dalam Hikamnya, bahwa manusia tidak akan mendapatkan pemahaman rahasia Tauhidulloh apabila didalam hatinya penuh dengan dosa dan kesalahan, baik secara lahir maupun secara bathin, dalam arti lain ia belum bertaubat. Jadi jelas dikatakan di sini bahwa orang-orang yang berrsih dan sucilah yang akan mendapatkan makna hakikat dari Tauhidulloh, akan tercurahkan kepadanya hakikat sebuah penciptaan dan rahasia dibalik indahnya alam ma’rifat.
Sehingga dikatakan dengan suci hatinya dari maksiat, maka ruh tersebut menjadi bersinar terang benderang bersama Tuhannya, ruhnya akan mengembara ke alam malakut kemudian kembali membawa hikmat-hikmat yang berkualitas tinggi yang berguna bagi diri dan lingkungannya. Dan hatinya terus bolak-balik kepada Tuhannnya dengan selalu berdzikir kepada Alloh SWT. Hatinya selalu mendapatkan penyaksian dengan Rabbnya, maka tersingkaplah rahasia ilahiyah. Dan ini semua bukanlah sebuah omong kosong atau dongeng belaka, tetapi nyata terjadi bagi orang yang sungguh-sungguh melakukannya. Apalagi seorang Syeikh Ibnu Athoillah menulis tidak ada motivasi lain dari yang bersifat keduniaan dan hawa nafsu, semata-mata ikhlas dan buah hasil tapak amal dirinya. Dari pengalaman spritualnya tergerak hatinya untuk menuangkan dalam sebuah kitab Hikamnya.

